Pandemi menghambat Proses Belajar? Absolutely Not

sumber : https://www.talenta.co/blog/insight-talenta/pemicu-perubahan-itu-bernama-covid-19/

Rabu, 16 September 2020 merupakan hari untuk proses pembelajaran mata kuliah Manajemen Perubahan dan Pengembangan Organisasi oleh bapak Andi Wahed, S. Pd., M. Pd. Dengan penuh rasa semangat dan antusiasme mengikuti perkuliahan juga sebagai pemateri yang ingin menampilkan diri dengan topik pembelajaran “Tingkat – Tingkat Perubahan”. Metode belajar kali ini cukup unik, meskipun dilakukan secara online tapi selalu saja ada inovasi baru oleh dosen kami. Yap, presentasi dengan menggunakan audio visual lalu di upload ke youtube. Dengan begitu, tidak ada lagi alasan bahwa ‘Pandemi menghambat proses belajar’.

Setelah proses pembelajaran usai, saya akhirnya dapat menarik suatu simpulan yang terjabar sebagai berikut.

Mengacu pada pendapat (Cook, Phillip, & Robert, 2001) bahwa Perubahan adalah proses dimana kita berpindah dari kondisi yang berlaku menuju ke kondisi yang diinginkan, yang dilakukan oleh para individu, kelompok-kelompok serta organisasi-organisasi dalam hal bereaksi terhadap kekuatan-kekuatan dinamik “Internal maupun eksternal”. Berdasarkan pandangan tersebut, saya memahami bahwa perubahan merupakan suatu keharusan yang timbul akibat resistansi internal maupun eksternal. Akan tetapi, perubahan tersebut sebagai bagian dari proses perpindahan untuk menuju pada keadaan yang lebih baik.

Dalam suatu bagian tingkat – tingkat perubahan dalam organisasi, disebutkan bahwa terdapat 3 tingkatan yang dimulai dari tingkat individu, tingkat kelompok maupun tingkat organisasi. Sebagai awal, perubahan pada tingkat individual jarang menimbulkan implikasi signifikan, bagi organisasi yang bersangkutan secara total, walaupun terdapat adanya kekecualian tertentu pada saat tertentu, misalnya perubahan pada penugasan pekerjaan, dipindahkannya karyawan yang bersangkutan ke lokasi yang berbeda, atau perubahan pada kondisi kedewasaan individu yang bersangkutan, yang terjadi dengan berlangsungnya waktu. Dalam tingkat perubahan individu terdapat beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli, berupa :

  1. Teori Kurt Lewin berpendapat bahwa perilaku manusia adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (driving forces) dan kekuatan-kekuatan penahan (restraning forces). Perilaku ini dapat berubah apabila terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan di dalam diri seseorang.
  2. Teori Stimulus-Organisme-Respons (SOR) Teori ini berdasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung kepada kualitas rangsangan (stimulus) yang berkomunikasi dengan organisme. Artinya kualitas dari sumber komunikasi (sources) misalnya kredibilitas, kepemimpinan, gaya berbicara sangat menentukan keberhasilan perubahan perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat.
  3. Teori Fungsi Teori ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan perilaku individu itu tergantung kepada kebutuhan. Hal ini berarti bahwa stimulus yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku seseorang apabila stimulus tersebut dapat dimengerti dalam konteks kebutuhan orang tersebut. Menurut Katz perilaku dilatarbelakangi oleh kebutuhan individu yang bersangkutan.
  4. Teori Sistem Sosial Menurut Teori ini, setiap perubahan di dalam suatu sistem, akan mempengaruhi bagian-bagian lain dari sistem tersebut. Misalnya, apabila seorang manajer memutuskan untuk memidahkan seorang karyawan, maka hal tersebut dapat menggangu pelaksanaan fungsi sosial kelompok kerja yang ada. (Gray, Strake)

Kemudian, ada juga beberapa poin mengenai bentuk – bentuk perubahan perilaku individu yang ada keterkaitan dengan tingkat perubahan individu, meliputi :

  1. Perubahan Alamiah (Natural Change). Perilaku manusia selalu berubah. Sebagian perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah. Contoh : perubahan perilaku yang disebabkan karena usia seseorang.
  2. Perubahan terencana (Planned Change). Perubahan perilaku ini terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh subjek. contoh: perubahan perilaku seseorang karena tujuan tertentu atau ingin mendapatkan sesuatu yang bernilai baginya.
  3. Mengubah orang. Dalam pengertian mengubah sikap, tingkah laku, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dari pegawai. Engkoswara dan Komariah (2010:162)
  4. Kesediaan untuk berubah (Readdiness to Change). Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program pengembangan di dalam organisasi, maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut, dan ada sebagian orang lagi sangat lambat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut.

Ketika ditanyakan bahwa dari ke-4 poin bentuk perubahan perilaku individu yang disebutkan, diantaranya mana yang memiliki pengaruh dalam sebuah organisasi? Berdasarkan telaah saya, poin ke-4 “Kesediaan untuk berubah”. Mengapa demikian? sebab ketika seseorang ingin melakukan suatu perubahan, maka yang paling mendasari adalah poin tersebut. Apabila tidak mengacu pada poin tersebut, maka seseorang tidak akan melakukan suatu perubahan atau parahnya akan menolak perubahan tersebut.

Untuk poin ke-2 dalam tingkat-tingkat perubahan, yakni perubahan pada tingkat kelompok. Pada poin ini, terdapat sekumpulan orang yang membentuk kelompok dalam suatu organisasi. Namun, kelompok yang dimaksud berupa departemen-departemen, tim-tim proyek, unit-unit fungsional di dalam departemen-departemen, atau kelompok-kelompok kerja informal. Apabila lahir sebuah kebijakan baru, maka tentunya kelompok – kelompok tersebut akan memberikan beragam respon, baik pro maupun kontra sehingga mampu memengaruhi perubahan tersebut. Sesuai dengan pendapat (Gray & Frederick, 1984), bahwa pengaruh besar yang dapat ditimbulkan oleh kelompok-kelompok terhadap individu-individu, maka implementasi perubahan secarac] efektif pada tingkat kelompok seringkali dapat mengatasi tantangan pada tingkat individual.

Sebagai poin terakhir, perubahan tingkat organisasi mengalami tahap untuk melakukan perubahan sebagai proses perpindahan dari keadaan sekarang menuju pada keadaan di masa mendatang sebagai ukuran untuk meningkatkan efektivitas organisasi berupa tindakan re-organisasi struktur dan tanggung jawab organisasi yang bersangkutan, perombakan total sistem imbalan perusahaan tersebut, atau perubahan-perubahan besar dalam sasaran organisasi yang bersangkutan. Adapun faktor pendorong terjadinya perubahan dalam organisasi dikarenakan faktor internal (Kinerja anggota, Perubahan besaran anggota serta keputusan yang diterapkan atasan) dan faktor eksternal (Persaingan, Peraturan pemerintah, Perkembangan teknologi, serta Kondisi lingkungan yang menuntuk untuk dilakukan perubahan).

Leave a comment